Penyebab hadiah miniatur kapal Mikasa dari Menhan Shinjiro kepada Prabowo picu kontroversi di Jepang
Pemberian miniatur kapal perang bersejarah Jepang, Battleship Mikasa, oleh Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto menimbulkan perdebatan di Jepang.
Kontroversi ini mencuat setelah Koizumi mengunggah laporan kunjungannya ke Indonesia melalui media sosial pada 13 Juni 2026.
Dalam unggahan tersebut, Koizumi menulis bahwa ia membawa miniatur Mikasa dari kampung halamannya di Yokosuka sebagai hadiah.
“Presiden Prabowo, yang berlatar belakang militer dan pernah menjabat Menteri Pertahanan, tampak senang menerimanya,” tulis Koizumi.
Pemberian Kapal Perang Dikritik
Namun, sejumlah pengguna media sosial Jepang segera melontarkan kritik.
Mereka menilai pemberian simbol militer Jepang kepada Indonesia tidak sensitif secara historis, mengingat Indonesia pernah berada di bawah pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II (1942–1945).
Pada masa itu, jutaan warga Indonesia menjadi romusha, istilah untuk pekerja paksa, yang mengalami penderitaan akibat kerja keras, kekurangan pangan, dan penyakit.
Komentar warganet menyebut tindakan Koizumi sebagai “tidak memahami sejarah”, “kurang peka”, dan “mengabaikan masa lalu agresi Jepang di Asia”.
Beberapa akademisi dan politisi Jepang juga mempertanyakan apakah pemerintah benar-benar mempertimbangkan latar belakang sejarah hubungan Jepang–Indonesia sebelum memilih hadiah tersebut.
Latar Belakang Sejarah
Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945 ketika masih merupakan koloni Belanda.
Selama masa pendudukan, banyak penduduk Indonesia direkrut sebagai pekerja paksa atau romusha, yang digunakan untuk membangun berbagai fasilitas militer Jepang.
Sejarawan memperkirakan jutaan warga Indonesia mengalami penderitaan akibat kerja paksa, kekurangan pangan, penyakit, dan dampak perang lainnya.
Karena itu, sebagian pihak di Jepang menilai penggunaan simbol militer Jepang dalam konteks diplomasi dengan Indonesia perlu dilakukan secara hati-hati.
Apa Itu Kapal Perang Mikasa?
Battleship Mikasa merupakan kapal tempur legendaris Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang menjadi kapal komando Laksamana Togo Heihachiro dalam Russo-Japanese War.
Kapal tersebut terkenal karena perannya dalam Pertempuran Tsushima tahun 1905 yang membawa kemenangan Jepang atas Rusia.
Hingga kini Mikasa dipelihara sebagai museum di Yokosuka dan dianggap sebagai salah satu simbol sejarah maritim Jepang.
Di sisi lain, sejumlah pihak membela keputusan Koizumi.
Mereka berpendapat bahwa Mikasa lebih dikenal sebagai simbol sejarah maritim Jepang pada era Perang Rusia–Jepang, bukan simbol pendudukan Jepang di Indonesia selama Perang Dunia II.
Mereka juga menilai hadiah tersebut dipilih karena hubungan pribadi Koizumi dengan Yokosuka, tempat Mikasa saat ini dipamerkan sebagai kapal museum, serta latar belakang militer Presiden Prabowo yang dikenal memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan pertahanan.
Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya kerja sama pertahanan Jepang–Indonesia, termasuk pembahasan ekspor kapal perusak kelas Asagiri, pertukaran informasi militer, serta kerja sama keamanan maritim yang dibahas dalam pertemuan Koizumi dengan Presiden Prabowo dan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta pekan lalu.
Akun resmi kantor anggota parlemen senior Jepang, Ichiro Ozawa, menyatakan bahwa pemberian miniatur kapal perang era Kekaisaran Jepang kepada negara yang pernah menjadi korban pendudukan Jepang menunjukkan kurangnya pemahaman sejarah.
“Karena tidak memahami sejarah, hal seperti ini bisa dilakukan tanpa merasa ada masalah. Tidak ada alasan untuk sengaja memberikan miniatur kapal perang era imperialisme kepada negara yang pernah menjadi korban,” tulis akun tersebut.


0 Response to "Penyebab hadiah miniatur kapal Mikasa dari Menhan Shinjiro kepada Prabowo picu kontroversi di Jepang"
Posting Komentar