Pasang Iklan Gratis

18 laga Megawati di Hyundai Hillstate hilang, efek aturan radikal pelatih timnas voli Korea

 Sebuah usulan berupa aturan ekstrem dari pelatih timnas voli putri Korea Selatan, Cha Sang-hyun, membuat Megawati Hangestri Pertiwi bisa kehilangan belasan pertandingan di Hyundai Hillstate.

Baru-baru ini Cha Sang-hyun mendesak federasi bola voli Korea Selatan (KOVO) membatasi jumlah pertandingan pemain asing di Liga Voli Putri Korea, baik itu kuota Asia maupun non-Asia.

Desakan diciptakannya aturan 'radikal' ini dimaksudkan Cha Sang-hyun untuk kebaikan timnas voli putri Korea Selatan.

Pelatih berusia 52 tahun ini menilai, ketergantungan tim-tim Liga Voli Putri Korea kepada pemain asing, berdampak negatif terhadap timnasnya.

Tidak hanya terdegradasi dari VNL, namun juga secara kualitas individu mengalami penurunan.

Terlalu mengandalkan pemain asing sebagai pencetak poin, mengakibatkan Cha Sang-hyun kesulitan mencari hitter yang dominan. 

Sebut saja Kang So-hwi dan Park Jeong-ah yang kini menjadi andalan di sektor outside hitter timnas voli putri Korea, secara kualitas jauh di bawah, katakanlah Megawati Hangestri Pertiwi.

Belum lagi untuk Lee Seon-woo, yang merupakan pelapis Megawati semasa masih di Red Sparks, merupakan opposite terbaik yang dimiliki timnas voli putri Negeri Ginseng. Sebuah ironi tersendiri.

"Tidak ada pemain (hitter lokal-red) yang dominan di tim divisi putri. Efektivitas serangan mereka tidak mencapai 10 persen. Ini situasi yang sulit bagi kami di jajaran pelatih timnas," ungkap Cha Sang-hyun, dikutip dari laman Naver.

Terlebih, timnas voli putri Korea dalam waktu dekat, tepatnya 6 Juni mendatang, harus berjibaku di AVC Nations Cup for Women's di Filipina. Secara materi pemain pun, mengalami penurunan kualitas.

Dengan masifnya penggunaan legiun asing, baik Asia dan non-Asia, pemain lokal di Liga Voli Korea makin tersisih.

Cha Sang-hyun pun mendesak KOVO agar menerapkan aturan pembatasan pertandingan bagi pemain asing di Liga Voli Putri Korea.

Dalam pernyataannya, mantan manajer GS Caltex Seoul KIXX ini menginginkan pemain asing tidak dimainkan sejak fase reguler putaran 4 hingga 6. 

Baru kemudian di babak play-off hingga grand final, tim-tim yang lolos boleh memainkan pemain asingnya.

Hingga detik ini, KOVO belum merespons usulan adanya aturan tersebut.

Apa yang diinginkan oleh Cha Sang-hyun terbilang radikal. Sebab, di kompetisi bola voli negara manapun, tidak ada aturan tersebut.

Lazimnya, sebuah liga akan membatasi jumlah pemain asing, demi meningkatkan menit bermain talenta lokal. Dan bukan membatasi jumlah laganya.

Secara garis besar, hal ini merugikan tim-tim Liga Voli Putri Korea dari segi finansial. Mengingat para pemain asing, baik Asia dan non-Asia memiliki gaji yang tak murah.

Jumlah Laga Megawati yang Hilang

Merujuk pada aturan yang diusulkan Cha Sang-hyun, menjadi pertanyaan berapa laga hilang dari Megawati maupun pemain asing di Liga Voli Putri Korea musim 2026/2027?

Seperti diketahui, Liga Voli Korea memiliki 6 putaran di fase reguler. 

Per putaran fase reguler, setiap tim memiliki 6 pertandingan. Sehingga, katakanlah Hyundai Hillstate, sepanjang fase reguler memiliki 36 laga, untuk memperebutkan jatah tampil di babak play-off.

Dengan aturan larangan bermain untuk pemain asing dari putaran 4 hingga 6, maka ada 18 pertandingan, yang tak akan diikuti oleh para pemain asing di Liga Voli Putri Korea. Termasuk Megawati Hangestri.

Kembali lagi, hal ini jelas merugikan klub. Selain sisi finansial, juga aspek target untuk bisa menembus babak play-off dan menjadi juara.

Tetapi jika dipandang dari kebutuhan timnas, sekalipun usulan aturannya ekstrem, apa yang disampaikan Cha Sang-hyun terbilang realistis.

0 Response to "18 laga Megawati di Hyundai Hillstate hilang, efek aturan radikal pelatih timnas voli Korea"

Posting Komentar