Gejolak geopolitik AS-Iran bakal uji daya tahan industri keuangan
Gejolak geopolitik pada awal 2026 yang berdampak pada volatilitas mata uang dinilai bisa menjadi ujian daya tahan bagi industri keuangan, khususnya sektor perbankan.
Perbankan dinilai perlu menjaga likuiditas yang memadai, memperkuat pencadangan risiko, serta meningkatkan selektivitas dalam ekspansi kredit di tengah konflik Timur Tengah.
Analis dari NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi mengatakan dinamika geopolitik global kembali menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan pasar keuangan dunia pada 2026.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat serta meningkatnya risiko konflik di Timur Tengah memicu volatilitas di berbagai kelas aset, mulai dari saham, komoditas, hingga nilai tukar mata uang negara berkembang.
Risiko geopolitik antara AS dan Iran turut meningkatkan ketidakpastian. Pasar telah melakukan pricing in terhadap risiko konflik terbuka, yang berisiko mendorong lonjakan harga minyak dan memperbesar tekanan inflasi global.
Kombinasi kebijakan perdagangan agresif dan ketegangan geopolitik tersebut memperkuat dolar AS dan meningkatkan volatilitas nilai tukar di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Rupiah mengalami fluktuasi yang lebih tajam seiring dengan pergerakan arus modal global yang sensitif terhadap sentimen risiko.
"Kondisi ini menuntut industri perbankan nasional untuk menerapkan strategi yang lebih adaptif dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Volatilitas rupiah berpotensi mempengaruhi biaya dana, kualitas aset, serta permintaan kredit dari sektor usaha yang terdampak fluktuasi kurs dan harga komoditas," kata Leonardo dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Dia menambahkan perbankan perlu menjaga likuiditas yang memadai, memperkuat pencadangan risiko, serta meningkatkan selektivitas dalam ekspansi kredit. Stabilitas sistem keuangan menjadi prioritas utama agar kepercayaan nasabah tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar global.
Menurutnya, tahun ini akan menjadi periode uji daya tahan industri keuangan. Bank dengan struktur likuiditas kuat dan manajemen risiko yang teruji akan relatif lebih resilien menghadapi volatilitas nilai tukar dan tekanan eksternal.
Dalam konteks tersebut, lanjutnya, Bank Woori Saudara memperkuat strategi bisnis 2026 dengan fokus pada penguatan manajemen risiko, penjagaan likuiditas, serta penerapan selektivitas penyaluran kredit. Langkah ini diarahkan untuk memastikan stabilitas kinerja dan memperkuat daya tahan bisnis di tengah dinamika pasar.
Hingga akhir kuartal III/2025, BWS mengelola dana pihak ketiga Rp32,42 triliun, dengan porsi terbesar dari deposito. BWS juga memiliki dukungan likuiditas dari WBK serta bank lain yang tercatat sebagai pembiayaan yang diterima senilai Rp12 triliun.
Dia memprediksi perbankan termasuk BWS akan menyalurkan kredit pada sektor-sektor dengan fundamental kuat dan prospek yang tetap tumbuh meskipun menghadapi tekanan eksternal.
Adapun, BWS mencatatkan penyaluran kredit hingga kuartal III/2025 sebesar Rp46 triliun dengan total aset sebesar Rp59,63 triliun.


0 Response to "Gejolak geopolitik AS-Iran bakal uji daya tahan industri keuangan"
Posting Komentar